Kaffee Bitte | Desi Puspitasari: tips-menulis
Tampilkan postingan dengan label tips-menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips-menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Oktober 2023

[Tips Menulis] 3 Hal yang Harus Disiapkan Untuk Menulis

Siapkan tiga hal berikut ini supaya menulismu lancar

Setelah mencari ide, rampung membikin outline, komplet menyusun karakter-karakternya, yakin dengan konflik yang akan digunakan, dan segala hal yang ada hubungannya dengan menulis, lalu apa lagi? Tentu saja segera memulai tulisan. 

Memulai tulisan hingga menyelesaikannya merupakan proses yang tak sebentar. Kamu bisa memberlakukan jam kerja kantoran supaya kamu bisa lebih disiplin dan selesai sesuai target.

Misalnya saja, mulai menulis pukul 9 pagi, istirahat rolasan pukul 12.00 – 13.00, kemudian kembali menulis hingga pukul 16.00. Atau, bisa jam berapa saja sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaanmu menulis. 

Tiga hal berikut ini sebaiknya kamu siapkan terlebih dulu supaya proses menulismu lancar. 

1. Ruang. Tempat yang nyaman untukmu menulis.

Setiap penulis harus  memiliki ruang(an)nya sendiri. Tidak bisa tidak. Menulis adalah pekerjaaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Sekali ambyar, tentunya agak sulit untuk menyelesaikan tulisan secara tepat waktu.

Ruang di sini bisa berarti rumah sendiri. Kamar – kamu bisa menutup pintu, memutar musik volume lirih, memasang aroma therapy yang membantumu fokus dan konsentrasi. Bisa juga perpustakaan – supaya lebih mudah mencari bahan tulisan dan juga tenang. Kafe – pilih yang terlalu berisik pengunjung dan pastinya aroma kopi dan pastry-nya yang baru matang bisa membantu membikin mood-mu menjadi lebih baik. Atau, di mana saja.

2. Tools atau alat. Alat yang mendukungmu untuk memulai sampai menyelesaikan tulisan.

Sebut saja laptop, ponsel, wi-fi. Pada suatu waktu laptopku pernah bermasalah sehingga aku harus menulis menggunakan ponsel. Capek banget, sih, karena layar dan hurufnya kecil. Tapi, itu harus dilakukan demi menyelesaikan tulisan. Jadi, nggak ada alasan untuk tidak menyelesaikan tulisan, ya.

Btw, cemilan juga masuk dalam kategori tools, lho. Cemilan adalah alat untuk menjaga mood dan konsentrasi, hi-hi. 

3. Niat. Poin paling absurd karena tak berwujud benda. Tapi, tergolong paling penting dan paling sulit.

Banyak pekerjaan terbengkalai karena tidak ada niat dalam mengerjakannya. Bahkan, menyelesaikannya. Niat adalah pondasi awalmu dalam bekerja – dalam hal ini khususnya menulis. 

Bagaimana menjaga niat supaya tetap ada? Letakkan target atau mimpimu di paling depan. Misal; aku ingin menulis supaya bisa membeli ponsel, bisa membangun rumah sendiri, ingin liburan ke luar negeri, supaya ada biaya umroh, dan banyak hal lainnya.

Ketika niatmu mulai kendur, bisa jadi kamu sedang letih, maka beristirahatlah. Bila tenaga telah pulih, tengok kembali niatmu, pasti kamu akan kembali bersemangat. 

Akhir kata tak harus persis seperti tiga poin di atas, ya. Setiap penulis pasti memiliki kebutuhannya masing-masing. Poin-poin yang dijelaskan di atas bisa kamu adaptasi sesuai dengan keperluanmu saat menulis. 

Jadi, 

sudah lengkap semuanya? 

Ayo, nulis. 

SEKARANG. 

Senin, 08 Mei 2023

[Tips Menulis] Cara Cepat Mendapatkan Ide Tulisan Fiksi

Mencari ide tulisan cepat tanpa perlu menjalani hari-hari sunyi sembari menghabiskan bercangkir-cangkir kopi.

Masalah utama saat hendak menulis adalah bingung mencari ide atau tema tulisan.  Menghabiskan waktu untuk googling malah berakhir skroling media sosial; membaca gosip di Instagram, mengikuti berita viral di X, menghikmati tutorial memasak via Shorts atau video di Youtube, atau malah ngapalin gerakan dance baru yang sedang treding di Tiktok. Ketika menghadap laptop, pikiran kembali blank.

Mencari ide dan/atau tema tulisan sebenarnya mudah. Ada banyak cara untuk menemukan ide dan/atau tema tulisan secara cepat. Secara prinsip mulailah dari yang dekat.

Mulailah dari yang dekat.

Cara simpel dan mudah namun memiliki banyak sekali cara. Berikut ini adalah dua contoh memulai dari yang dekat yang bisa segera kamu praktikkan. Simak, ya, bisa kamu tambahkan juga bila ada cara lain yang juga asyik di kolom komen.

Hari-hari besar nasional

Apa saja hari-hari besar nasional dan internasional bisa kamu dapatkan dengan googling. Hari-hari besar ini bisa digunakan karena pasti memiliki kedekatan dengan pembacanya. Selain itu juga untuk mengejar momen. 

Misalnya: 

JanuariTahun Baru 

Ide cerita fiksinya:

Thriller – Seorang gadis mati ditikam sebanyak sepuluh kali tepat di ulu hati. Teriakan minta tolongnya tertutup bising kembang api yang menyala tepat di pergantian tahun. Tak lama kemudian, riuh ledakan kembang api berganti dengan teriakan ngeri para tamu rooftop hotel bintang lima. Mayat anak perempuan anak presiden tergeletak tanpa nyawa berlumuran darah.

Romance – Hati Adila mendadak redup dan runyam tepat ketika kembang api pergantian tahun meledak di udara. Suaminya dengan dingin mengatakan bahwa mereka akan berpisah. Laki-laki itu tak bisa berpura-pura lagi; ia masih mencintai mantan pacarnya dan ingin kembali ke pelukan perempuan yang telah mencampakkan lima tahun lalu.  

Februari – Valentine 

Ide cerita fiksinya:

RomanceValentine identik dengan cokelat. Sayangnya, wanita pujaan Thomas adalah seorang barista sekaligus owner coffee shop ternama se-Bali. Sementara itu pengetahuan Thomas tentang kopi hanyalah sebatas es kopimik saset gelas besar masih ditambah dua sendok teh gula pasir. Tepat di hari valentine, Thomas bertekad mengikuti kompetisi brewing kopi dan menjadi juaranya demi mendapatkan hati Jessie.

• Berita viral

Ide cerita fiksinya:

Romance – Irha yang telah diam dan bersabar selama lima tahun akhirnya membongkar perselingkuhan suaminya -Klemer -  yang seorang pilot dengan pramugari – Della. Setelah tiga tahun berpisah dengan suaminya, Irha akhirnya menemukan tambatan hati. Laki-laki pengusaha yang begitu mengayomi. Hingga suatu hari istri tersebut mengetahui bahwa laki-laki pengusaha tersebut adalah kakak laki-laki Della – selingkuhan mantan suami Irha.


Jadi, kurang lebih begitu, ya. Menulislah dari yang paling dekat. Paling dekat bisa berarti apa saja; pengalaman, perjalanan, curhatan, masalah, juga termasuk hari-hari besar nasional dan internasional pun berita yang sedang viral. 

Ide cerita tersedia banyak di sekitar kita. Hanya kita mampu menangkap dan mengolahnya menjadi cerita atau tidak. Latihan terus menerus akan menjadikan kita sedikit lebih lihai ketimbang sebelumnya.

Selamat menulis. 

Kamis, 16 Februari 2017

Dapetin Buku Gratis dari Penulis

Minta buku gratis ke penulis sepertinya masih ada aja sampai sekarang. Menulis itu bekerja, lho. Penulis adalah sebuah profesi dengan potongan pajak yang tak main-main. Bayaran para penulis dengan nominal sekian akan dipotong pajak dengan angka yang tidak bisa dibilang kecil. 

Lalu, ada orang-orang yang meminta buku gratis. Rasanya kok menjadi penulis itu seperti bekerja sambatan atau bekerja yang tak dibayar. Nombok malah—bayaran royalti belum didapat, malah harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli buku dan menanggung ongkos kirimnya ke si peminta-peminta buku gratisan. 

Duh….

Di sini aku ingin membagi informasi, bahwa sebenarnya ada banyak cara mendapat buku gratis dari penulis tanpa harus berlaku annoying

Untuk novel baruku yang berjudul Membunuh Cupid, aku mengadakan rangkaian #bacabareng dan giveaway. Yup, rangkaian baca bareng novel baru, giveaway, kuis, bookstagram, lalu blogtour biasanya akan membagi beberapa eksemplar buku untuk beberapa orang yang beruntung. Termasuk juga bincang bareng di radio atau talkshow. Masih ada pula lomba review buku, dan lain-lain. Ada banyak buku gratis yang bisa didapatkan dengan sedikit berusaha, tanpa harus merengek kayak anak kecil minta permen atau es krim. 

Lalu bagaimana cara mendapatkan itu semua? Simak beberapa cara yang aku paparkan di bawah ini:

1. Maksimal menggunakan media sosial.

Kamu boleh memilih tidak punya media sosial dan mencerca segala keburukannya. Tapi kalau mau buku gratis, tools ini wajib untuk dipunya.

Penggunaan media sosial di zaman sekarang tak bisa dimungkiri tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Kegunaan facebook, twitter, instagram, goodreads, dll sayang bila tak dimanfaatkan. 

Kalau kamu cakap mengulas buku dan memiliki kemampuan ngetwit dan atau menulis status yang membikin orang-orang atau followers-mu penasaran, pasti akan banyak penulis yang menghubungi untuk mengajak kerja sama. Kamu punya twitter namun berdebu hingga banyak sawang laba-laba, atau punya facebook tapi diisi status galau melulu? Wah, sayang banget. 

Di Instagram sekarang lagi ngetren #bookstagram, yaitu memotret buku dengan komposisi dan lighting yang asyik sehingga menyenangkan untuk dilihat. Nah, kalau kamu punya instagram, bisa banget dimaksimalin penggunaannya. 

Enggak jarang orang mencari ulasan buku di Goodreads sebagai rekomendasi apa buku yang dipingini itu sebaiknya dibeli atau enggak. Dengan rajin menulis review di sana, dilengkapi sistem rating bintang, bisa jadi akun Goodreads-mu jadi rujukan orang-orang. 

Nah, kalau kamu punya dan memaksimalkan penggunaan media-media sosial tersebut, apalagi khusus membahas buku dan segala hal yang berhubungan dengan buku, kamu boleh berbesar hati bakal dilirik penulis dan penerbit untuk diajak kerja sama. 

Kerja sama itu artinya kamu akan mendapat buku gratis. Tugasmu kemudian adalah sesuai kesepakatan antara kamu dan penulis yang mengajak kerja bareng. 

2. Rajin menulis review di blog.

Blog di sini bisa gratisan atau berbayar. Saranku, bila tulisanmu di blog sudah banyak dan kamu konsisten menulis di sana, lebih baik bikin blogmu menjadi berbayar untuk menunjukkan sikap serius dan kerja profesional. Namun, gratisan pun tidak apa-apa kok, asalkan kamu benar-benar konsisten menulis. 

Selain rutin menulis di sana, bikin blogmu rapi dan enak dibaca. Orang yang membutuhkan informasi mengenai sebuah buku gampang mencari di blog tersebut. Akan lebih baik lagi kalau blog kamu bisa di-share ke akun media sosial yang lain. 

Sumber gambar
Kalau blogmu rutin diisi, review-mu ditulis dengan baik dan berimbang antara pujian dan kritikan—penulis pun butuh dikritik untuk tahu di mana ia kurang dan harus memperbaiki bagian yang bolong tersebut supaya bisa menulis lebih baik— rapi, enak dilihat, dan informatif, penulis dan penerbit pun tak akan ragu-ragu untuk mengajakmu bekerja sama membikin blogtour dan atau giveaway

3. Menulis review di media massa; koran dan atau majalah.

Trust lebih akan kamu dapat kalau tulisan review bukumu sering dimuat di media massa. Bukti tulisan yang dimuat bisa dikirim ke penerbit untuk mendapatkan buku gratis... untuk di-review lagi. 

4. Ikut lomba.

Kalau kamu punya blog, bisa ikut lomba review di blog. Kalau kamu aktif berkicau di Twitter, bisa ikut kuis atau giveaway. Kamu punya keberanian mengirim review buku untuk dikirim di media, lakukanlah. Kamu senang memotret dan menata buku sehingga ciamik dilihat, maksimalin Instragram kamu. 


Ada yang punya cara lain untuk mendapat buku gratis? Boleh berbagi di sini. Asalkan cara mendapatkan buku itu dengan cara yang baik lho, ya. 

Oh ya, yang terpenting dari itu semua adalah tanggung jawab. Penulis dan penerbit mengajak kerja sama itu artinya mereka melihat ada kemampuan dan potensi yang menyenangkan dalam pribadi dan tulisanmu. Bila jadwal dan cara dan segala hal sudah disepakati, misal: kita #bacabareng novel antara tanggal sekian sampai sekian ya—jangan kemudian kamu mblenjani di tengah-tengah perjalanan. Jangan tiba-tiba mogok tidak bekerja dengan alasan tiba-tiba ponsel hang atau yang lain. Bila ada hambatan bisa diobrolin baik-baik kok dengan penyelenggaranya. Jadwal bisa diundur atau yang lain asal ada kabar dengan alasan yang bisa diterima. 

Semua pekerjaan menuntut tanggung jawab yang baik. Itu aja, kok.

Nah, sekarang sudah tahu caranya mendapat buku gratis tanpa harus membikin sebel penulis, kan? ☺


Senin, 29 Agustus 2016

4 Hal yang Harus Diperhatikan Jika Kamu Berprofesi Sebagai Penulis

Aku mencoba menulis semacam tips yang sebaiknya dimiliki dan dilakukan oleh penulis zaman sekarang. Poin-poin saran di sini enggak wajib dan enggak harus dilakukan, sih. Ini hanya sekadar sodoran pilihan. Dan sebenarnya masih banyak hal yang bisa ditulis, tapi empat ini saja dulu.


1. Rutin Olahraga dan Jaga Pola Makan

Tidak hanya penulis, di zaman sekarang yang pilihan kulinernya begitu membabi buta – tanpa diimbangi informasi menjaga kesehatan dan rutin olahraga yang seimbang, siapapun bisa dengan mudah terkena penyakit.

Beberapa hal penyakit yang dulu hanya menyerang usia tua, sekarang sudah menghinggapi usia muda, misalnya kolesterol, jantung, dan diabetes.

Penulis rentan sekali dengan penyakit ini. Terlebih jika waktunya bekerja lebih banyak digunakan untuk duduk di depan laptop. Konsumsi makanan enak yang berlebihan, minum soda, minum kopi, merokok yang tanpa diimbangi gerak tubuh cukup bisa membikin obesitas dan diabetes.

Jaga pola makan dan rutin olahraga mesti dan kudu dilakukan. Bisa dengan jogging atau senam dipandu video Youtube. Masukkan kata kunci workout atau fitness atau yang sepadan dan... tarraaa akan muncul banyak pilihan. Minimal 30 menit/hari, bisa setiap hari atau hanya akhir pekan. Yang penting bergerak.

Aku sedang enggak bicara hal terlalu tinggi, misalnya rajin olahraga bikin durasi ketahanan menulis lebih panjang ketimbang yang enggak. Dalam tulisan ini hanya ingin mengingatkan hal sederhana saja; jaga kesehatanmu.

2. Manajerial Mumpuni

Artinya, kamu  punya manajer. Manfaat manajer adalah mengatur waktu kerja penulis. Untuk aku yang lebih suka leyeh-leyeh ketimbang melulu menulis, hehe, kehadiran manajer bermanfaat sekali. Terlebih bila manajer menerapkan disiplin tinggi (baca: tips menulis dengan target).

Salah satu tugas manajer adalah membikin timeline menulis. Contohnya; dalam seminggu kamu harus menulis cerpen berapa kali dan dikirimkan ke mana saja, harus menulis novel apa saja dalam setahun sekaligus disusun tenggat waktunya, dan sesuai kebutuhan kamu yang lain sebagai penulis.

Tugas manajer yang lain? Oh, banyak sekali.

Bagiku kehadiran manajer sangat membantu melihat rencana jangka jauh dalam menulis. Dan, aku lebih memilih punya manajer. Kalau kamu punya kemampuan membikin timeline pekerjaan menulis dan bisa menepatinya dengan baik, mengerti cara bernegosiasi, kehadiran manajer mungkin tidak begitu dibutuhkan.

3. Tidak Anti Media Sosial

Media sosial di internet itu tool, kan? Salah satu di antara banyak pilihan lain. Jadi, boleh dipakai boleh tidak. Antar satu penulis dan penulis lain tidak perlulah saling mencela pilihan masing-masing.

Kehadiran media sosial baik berupa Instagram, Youtube, Twitter, Facebook, Website, Blog dan masih banyak yang lain pergunakan dengan maksimal. Baik untuk mencatat proses kreatif maupun berpromosi.

Semacam kehadiran komputer sebagai ‘pengganti’ mesin ketik. Ada penulis yang memilih menggunakan komputer, ada yang bertahan menggunakan mesin ketik. Saat si penulis dengan komputer lebih produktif menghasilkan buku, lalu si penulis mesin ketik marah-marah dan merasa tak adil dan menyalahkan si penulis komputer... itu kan lucu.

4. Promo

Karena sekarang tidak seperti ’tipikal‘ penulis masa lalu yang hanya duduk di tepi jendela dengan tatapan menerawang lalu mendapat ide besar. Karena penulis sekarang juga tidak seperti masa lalu, saat buku terbit maka pekerjaan menulisnya selesai. Tidak.

Beberapa penulis ada yang merasa tidak nyaman berbicara di depan umum. Aku terkadang masih begitu. Lebih memilih berkumpul bersama kekasih atau sedikit kawan dekat dengan suasana yang lebih hangat.

Lalu, bagaimana? Ya cari cara berpromosi yang tidak mengharuskan sering tampil di muka umum. Apa saja? Cari sendiri-lah. 😀

***
Well, dari empat hal yang aku tulis di atas semoga bisa memberi masukan yang baik. Jenis penulis ada dua macam; melakoninya sebagai hobi – yang bila karyanya terbit dan dimuat di media massa maka disikapi dengan euforia berlebihan – dan penulis sebagai profesi – yang bekerja tidak hanya dengan perhitungan jangka pendek, namun berjangka panjang ke depan.

Kalau kamu melakoni pekerjaan menulis hanya sebagai hobi, boleh banget empat poin yang aku tulis di atas diabaikan sepenuhnya. ;)

Sabtu, 27 Agustus 2016

Tips: Menulis dengan Target

Saran: sebaiknya kamu punya rekanan yang bisa diajak kerjasama.

Aku bekerja tak hanya fokus menulis pada satu tulisan dan tak satu jenis pekerjaan. Perihal yang mudah ditunda dan dikesampingkan adalah menulis.

Karena, menulis itu tidak seperti memasak, misalnya. Saat memasak, menjerang air sekalipun, bila kamu lalai akibatnya masakanmu gosong, airnya asat. Di dalam menulis, kamu menunda memulai atau menyelesaikannya tak akan memberi dampak apa-apa kecuali naskah tidak bisa segera dikirim ke editor.

Beda urusannya ketika kamu sudah bekerja sama dengan beberapa editor dan memiliki tenggat yang ketat. Mau tidak mau, kamu harus menyelesaikannya tepat waktu. Semolor-molornya pun (astaga, aku jadi ingin pizza mozzarella betul—saat menulis molor aku teringat muluran keju di pizza, yumm) hanya bisa berselang beberapa hari dengan pemberitahuan sebelumnya.

Begini caraku mengatasi molor tenggat; menulis dengan target.

Menulis dengan target mungkin telah biasa dilakukan oleh banyak penulis. Misalnya; dalam sehari harus bisa menyelesaikan tulisan 10 halaman atau minimal 1.400 kata. Aku juga melakukan itu, namun masih ditambahi dengan satu perlakukan lagi yang khusus.

Jadi, begini. Dalam sehari aku menargetkan menulis minimal 2.000 kata. Kalau targetku hanya berhenti di sana, pencapaiannya akan kurang maksimal. Manusia selalu punya alasan untuk tidak memenuhi kewajiban. Apalagi kalau kewajiban itu dibikin sendiri. Ya, nggak?

Aku kemudian  bekerja sama dengan Masku. Setiap kali aku telah selesai menulis sesuai target, segera aku kirimkan pekerjaan tersebut ke e-mail dia. Selalu begitu di setiap kesempatan menulis novel dengan judul yang berbeda-beda. Bila dalam sehari aku menarget menulis minimal 2.000 kata, ya berarti masku akan menerima setoran naskah minimal dengan jumlah kata yang sudah ditentukan.

Apakah kalau dengan pasangan sendiri keadaan akan ayem-ayem saja saat aku ’teledor‘ alias tidak disiplin menulis? Jangan salah. Dia ini galak-banget. Galak-yang-banget-banget. Perihal yang tidak disiplin sangat tidak disukainya. Jadi, tidak akan pernah ada alasan buatku molor dalam menyelesaikan tulisan. Kalau aku terlambat atau bahkan tidak mengirim tulisan, dia akan menagih.

Kamu juga bisa melakukan hal ini. Pilih satu kawan yang kamu percaya, atau ajak pasanganmu untuk bekerja sama. Tentukan dalam sehari kamu akan menulis minimal berapa halaman atau berapa kata. Bikin tanggal tenggat. Kemudian, setiap kali kamu menyelesaikan jatah kewajiban menulis, kirimkan ke rekanan kamu tersebut.

Selanjutnya bebas saja. Kamu bisa meminta rekanan kamu untuk juga menjadi penilik dan editor naskahmu kali pertama, atau hanya berperan sebagai ’tukang tagih’. Satu hal yang harus kamu pastikan; rekanan kamu punya disiplin tinggi.

Menulis dengan target awalnya akan terasa seperti paksaan dan penuh tekanan. Tapi, bila sudah terbiasa, kamu akan merasakan seperti bekerja biasa. Tidak usah mengeluh.

Jumat, 18 Maret 2016

Tulisanmu Kayak Muntahan Kucing

Bagaimana cara menghadapi kritik? Dengan tidak berhenti menulis.

Suatu waktu kau akan mendapati orang-orang berkata yang tidak-tidak mengenai karyamu; sampah, seharusnya kau tidak menulis, tulisan tak bisa dibaca dan dicerna, otak penulisnya berada di bokong, cerita ini tak lebih baik ketimbang muntahan kucing, menulis kok buat cari duit dan kekayaan - seharusnya menulis itu untuk having fun (ya, kalau suamimu tajir dan kau hidup tinggal ongkang-ongkang kaki, ya kalau kau hidup masih minta jatah bulanan pada orangtua, ya kalau kau menganggap menulis adalah hobi seperti membikin teh untuk teman kudapan saat sore - kau kerjakan dengan teramat jarang), dll.

Jangan kaget, orang bisa berkata seburuk apapun yang mereka mau. Mereka bahkan juga bisa membencimu hanya karena perihal sepele; kau tak membalas komen Facebook, misalnya.


Illustration: "words" free image Pixabay

Kau bisa mendengarkan 'masukan' mereka, tapi jangan berhenti menulis. Jangan sampai berhenti menulis. Kalau kau mogol di tengah jalan rasanya akan sangat eman-eman.

Bila aku bilang, memangnya mereka siapa? Memberi kamu makan saja tidak, lalu apa hak mereka berkomentar, tentu kau tak akan berkembang. Jadi begini saja;

Anggap kau pekerja kantoran atau tukang bakso (atau apapun). Suatu ketika pekerjaanmu dicerca bos atau klien habis-habisan. Suatu ketika sajianmu dikomplain pelanggan karena terlalu alot  atau yang lain.

Apa seketika itu kau langsung resign dan berhenti jualan? Kan, enggak. Tapi, mencari cara bagaimana supaya pekerjaanmu bisa beres dengan baik. Mencari cara bagaimana sajianmu bisa lezat dan bisa mengundang lebih banyak pelanggan.

'Semudah' itu. Seperti itu. Kau lakukan usaha untuk memperbaiki keadaan yang kurang baik.

Nah, coba kau terapkan perihal tersebut dalam pekerjaan menulismu. Kau dengarkan apa kata mereka yang sehubungan dengan tulisanmu. Perbaiki bagian yang buruk, cari cara supaya tulisanmu bisa tampil lebih layak. Toh, bila kau ternyata bebal, tak ada yang akan memecatmu.

Penulis adalah profesi yang kau bisa seenaknya 'resign' sewaktu-waktu. Namun, 'hanya' demi menghadapi perkataan pedas, seharusnya kau tak berhenti. [dps]

Senin, 16 November 2015

Penulis Profesional ft. Penerbit Profesional

Saat kamu memutuskan menjadi penulis profesional, ini pilihannya; bekerja sama dengan penerbit profesional yang memiliki editor cakap dan atau menerbitkan indie. Bekerja sama dengan sesama profesional akan 'meringankan' pekerjaanmu sebagai penulis. Mengapa demikian? Ketika masing-masing pihak sudah memahami apa job desk pekerjaannya, maka tidak ada lagi alasan ini itu baik dari pihak penulis atau pihak penerbit (pun editornya). Yang ada adalah bekerja sesuai dengan kesepakatan bersama. 

Penerbit Profesional

Di sini aku membicarakan tentang, tentu saja, penerbit mayor. Salah satu contoh penerbit mayor adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan keluarga besarnya. Berikut adalah hal-hal yang akan lakukan padamu ketika kau sebagai penulis bekerja sama dengan mereka:

1. Memberi kabar naskah diterima/ditolak. 

Kepastian ini bisa cepat, bisa sangat lama. Antara 3 - 4 bulan sampai 3 tahun penantian. Bekerja sebagai penulis memang sebaiknya seperti orang berak, ketika rampung menulis dan mengirimkannya baik ke penerbit atau media massa koran atau majalah, segera lupakan untuk menulis lagi karya yang baru.

Kepastian diterima/ditolak akan disampaikan melalui surat pos, surel (email), dan juga telepon. Saat kau sibuk menulis naskah baru, tentu waktumu akan jauh lebih produktif dan menghasilkan ketimbang hanya menunggu kabar naskah yang sudah dikirim selang beberapa waktu lalu.

2. Memberi royalti dan kompensasi pasti.

Royalti yang akan diterima oleh penulis minimal adalah 10%. 'Keistimewaan' (baik hak dan kewajiban) penulis lain diatur dalam pasal-pasal dalam Surat Perjanjian Penerbitan. Pembayaran royalti juga dilakukan tepat waktu, tidak mundur, tidak menghilang begitu saja tanpa kabar, dan tidak merepotkan penulis. 

Penerbit yang baik akan selalu membayar royalti tepat waktu. Apabila ada keterlambatan mereka akan mengirimkan pemberitahuan. Apabila penulis mengalami kesulitan, mereka sigap merespons dan membantu. 

3. Komunikasi baik, terbuka dan transparan.

Terutama apabila ada hubungannya dengan pihak ketiga. Seperti misalnya; diterbitkan dalam bahasa asing, dialihmediumkan seperti FTV atau layar lebar, dan banyak hal lainnya. Penerbit yang baik tidak akan pernah beralasan kecolongan pihak PH televisi atau menyembunyikan surat kontrak perjanjian film layar lebar, atau memotong bayaran royalti film layar lebar penulis dengan dalih pajak (padahal di dalam film, pajak seluruhnya ditanggung oleh produser), dan tindakan-tindakan merugikan lainnya.

Penulis dan penerbit adalah partner atau rekan kerja yang setara. 

Editor Cakap

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh penerbit profesional adalah editor cakap. Peran editor di sini penting karena posisi ini yang akan 'mendampingi' penulis menghasilkan naskah yang apik dan siap diterbitkan. 

Editor itu kawan, bukan lawan. Seringkali aku mendengar kegusaran seorang penulis yang marah karena ada bagian tulisannya yang dihilangkan, beberapa bagian diganti, dan lain sebagainya. 

Penulis yang baik seharusnya bisa menjalin komunikasi yang baik dengan editor. Pun, ketika seorang editor sudah cakap, ia akan mengkomunikasikan bagaimana ia merevisi naskah si penulis. Editor yang baik tak akan mengacak-acak naskah, yaitu semena-mena mengganti tulisan si penulis menggunakan gaya tulisannya sendiri sehingga menghilangkan 'napas' atau gaya menulis si penulis. 

Dalam proses editing, komunikasi itu penting. Editor bisa menyampaikan bagian mana saja yang sekiranya perlu diganti, penulis bisa menyatakan keberatannya dan atau kesediaannya. Masukan-masukan dari dua pihak sangat penting untuk menghasilkan naskah siap terbit yang baik. 

Menerbitkan Buku Indie

Ketika menurutmu naskahmu jauh lebih baik apa adanya, kau ingin memiliki buku dengan kover dengan desain tertentu, dan ada nilai-nilai yang kau perjuangkan dan tak ingin 'dilibas' oleh penerbit, maka indie adalah satu-satunya jalan bagimu untuk menerbitkan buku. 

Tidak ada yang benar dan salah dalam menerbitkan buku. Baik di penerbit mayor maupun secara indie. Semua tergantung kebutuhan dan tujuan menulis si penulis. 

Cara Mengirim Naskah ke Gramedia


Untuk mengetahui penerbit mana saja yang bekerja sama dengan baik, dan juga memiliki editor yang cakap, kamu bisa bertanya dengan yang sudah berpengalaman. Cari tahu di penerbit mana saja banyak penulis 'kabur' dan banyak penulis yang terus bertahan bekerja sama menulis dengan penerbitnnya. Dan, mengenai bagaimana cara mengenai mengirim naskah ke Gramedia, sila klik tautan berikut ini

Mengenai alamat dan cara mengirim naskah penerbit yang lain, kau bisa memanfaatkan fasilitas Google (consider you never know the internet tool named Google). Atau, juga bisa mem-follow akun twitter penerbit yang bersangkutan. Tak jarang akun tersebut memberi tahu mengenai tata cara pengiriman naskah. 

Dan, mengapa aku tiba-tiba menulis postingan ini? Karena pagi tadi Facebook memunculkan memory enam tahun lalu, yaitu novel pertamaku Girl - Ism yang diterbitkan oleh Gramedia. Dan sampai sekarang aku masih bekerja sama dengan penerbit tersebut. [dps]

Sabtu, 17 Oktober 2015

Mulai Menulis: Gonna Punch Your Face, Baby

Gonna Punch Your Face

Bagaimana cara mencari perhatian seorang cowok populer bintang lapangan basket, sementara kamu adalah seorang murid perempuan tonggos dengan rambut kusam dikucir dua?

(a) diam di pojokan, mengamati dari jauh
(b) melambai dari pinggir lapangan
(c) masuk dan berdiri di hadapan si bintang basket di tengah lapangan, tonjok mukanya keras-keras sambil berteriak, "Call me stuvid for doing this, vut... vut... I do really love vyou, Vavy...!"

Menurutmu, pilihan mana yang akan memberimu kesempatan diperhatikan sekaligus dikenang sepanjang hayat oleh banyak orang?

Seperti itulah menulis. Kau bersaing dengan begitu banyak penulis lain untuk mendapat 'perhatian' (bisa berupa cerpen yang diterbitkan di majalah dan koran dan atau novel yang dicetak penerbit mayor pun indie). Lalu, bagaimana cara mencari atau mencuri perhatian sementara persaingan begitu ketat?


Curi Perhatian

Begitulah. Tak hanya satu sperma yang harus bersaing dengan jutaan sperma lain supaya berhasil menembus sel telur, proses menulis pun begitu. Rampung menulis, mengutip Chairil Anwar, kerja belum usai. Tulisan tersebut masih harus berjuang mendapat tempat, misal dalam rubrik cerpen koran dan majalah atau kesepakatan diterbitkan oleh penerbit. Juga mendapat tempat di hati pembaca. 

Why so corious?
Maka, ciptakan awalan yang menarik. Mulailah cerpen dan atau novel dengan paragraf awal atau malah sebuah kalimat pembuka yang memancing penasaran

FYI saja, barangkali ini telah menjadi rahasia umum, ketika editor menyeleksi naskah, mereka akan membaca satu paragraf awal cerpen dan atau lima sampai sepuluh halaman atau bab pertama novel. Bila menarik, maka naskah akan dibaca hingga rampung. Bila tidak, maka tolak. 

Hal ini tak hanya berlaku pada para editor saja, tapi juga para pembaca. 


Mulai Menulis

What if merupakan frasa yang telah digunakan untuk memulai tulisan. Bisa ditambahkan dengan frasa berikutnya; what will you do then. Seumpama du frasa tersebut digabung menjadi satu kalimat utuh, akan menjadi seperti ini; kalau keadaannya sudah kayak gini, terus kita bakal ngapain?

Ciptakan sebuah kondisi, letakkan satu atau beberapa tokoh dengan karakter kuat di sana, perkirakan kemungkinan reaksi yang akan muncul, lalu tuliskan. Keadaan rekaan ini bisa berasal dari pengalaman pribadi pun pengalaman orang lain atau ide yang muncul dari membaca artikel atau apapun.

Misalnya seperti ini:

Sudah berbulan-bulan diet ketat hanya makan sayur rebus dan buah segar hingga perutmu sering keroncongan, tiba-tiba seseorang menawari pizza keju mozarella favoritmu, apa yang bakal kamu lakuin: tetap diet atau mengacaukan segala usaha keras menurunkan berat badan dengan nekat mencomot pizza?


Membikin Penasaran

Sifat manusia kekunoan dan kekinian adalah... kepo! You're a writer and also storyteller, so use it! Manfaatkan rasa ingin tahu yang besar dari editor dan para pembaca untuk tertarik sekaligus bertahan membaca tulisanmu sampai selesai. 

Berikut contoh kalimat pertama (sedikit aku ringkas) yang menonjok dari sebuah cerpen:

Di pagi buta terdengar jeritan penyabit rumput ketika melintasi pemakaman Desa Bukina. (sumber)

Contoh paragraf awal cerpen yang menarik:

MAYAT itu tergeletak di tengah jalan. Telentang dan telanjang. Mirip mayat Jacques yang melambangkan virtuvian man dalam lukisan Da Vinci. Tapi mayat ini berbeda. Tak ada simbol-simbol di tubuh atau di sekelilingnya. Hanya satu hal yang bisa menjadi titik terang kematiannya, sebuah gergaji yang kemungkinan usai merobek leher serta mengalirkan darahnya. (sumber)

Dan berikut merupakan contoh halaman awal bab satu (sedikit aku ringkas) novel Stargirl dari Jerry Spinelli yang mengusik rasa penasaran:

Stargirl - Jerry Spinelli
sumber gambar
"Did you see her?"

That was the first thing Kevin said to me on the first day of school, eleventh grade. We were waiting for the bell to ring.

"See who?" I said.

He grinned, "You'll know."

I punched his arm. "Who?"

The bell rang. We poured inside.

I heard it again in homeroom, a whispered voice behind me as we said the Pledge of Allegiance: "You see her?"

I heard it in the hallways. I heard it in English and Geometry:


"Did you see her?"

Who could it be? A new student? A spectacular blonde from California? Or from back East, where many of us came from? Or one of those summer makeovers, someone who leaves in June looking like a little girl and returns in September as a full-bodied woman, a ten-week miracle?

And the in Eart Sciences I heard a name: "Stargirl." [dps]


Menurutmu, apa yang coba digaet dan dimanfaatkan penjual obat yang bercerita hingga berbusa-busa sehingga dikerubung begitu banyak orang di pasar? Rasa penasaran.

Minggu, 30 Agustus 2015

Berbincang SARU - SAstra dan RUpa FKY 27

Seberapa jauh sastra dan rupa bersinggungan? Sepertinya sudah lumayan jauh, apabila menilik catatan atau esai "Cerita yang Menyerap Rupa" dari Agus Noor, yang mengatakan bahwa kesinambungan antara sastra dan rupa sudah dimulai Kompas medio 2002. Dalam cerpen koran Kompas (dan akhirnya cerpen-cerpen koran hari ini) bisa diperhatikan akan selalu ada ilustrasi cerpen. 

Cerpenis itu membandingkan bagaimana antar dua jenis kesenian tersebut saling menanggapi dengan melakukan pembacaan terbalik. Apabila biasanya ia membaca cerpen terlebih dulu baru kemudian melihat ilustrasi, kali ini ia memerhatikan ilustrasi baru kemudian membaca cerpen. Temuannya mengatakan bahwa cerpen dari para penulis tak sepenuhya luwes dan miskin dimensi dalam 'mengadaptasi' karya ilustrasi cerpennya.


Jumat, 28 Agustus 2015, aku bersama seorang dosen ISI mas Andre Tanama, berkesempatan menjadi pembicara di panggung workshop FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) 27. Perbincangan itu menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru mengenai sastra dan khususnya yang ada hubungannya dengan rupa. 

Memang sebaiknya demikian, bukan? Pertemuan dengan orang baru sebaiknya melahirkan dan menghasilkan pengetahuan baru, berbagi ilmu, dan bukan saling menyindir dan nyinyir tanpa juntrungan. Ketika diri ini bermanfaat bagi orang lain, pun sebaliknya, betapa tidak seni sastra dan rupa dan segala macam jenis seni lain di Indonesia bisa berkembang pesat? Jadilah pribadi yang haus ilmu, bukan gosip terlebih mencela orang lain yang kalian kenal dan ketahui latar belakangnya pun tidak? Bertukar ilmu itu jauh lebih menyenangkan dalam berproses kreatif, percaya deh. 

Pengalamanku sebagai penulis dengan beberapa cerpen dimuat di koran nasional dan juga majalah seperti Bobo dan Femina, sekaligus novelis yang kover buku tentu tak jauh-jauh dengan perwajahan buku:

Sebagai cerpenis. 

Sejauh ini ilustrasi cerpen-cerpenku (bisa dibaca dan diperhatikan ilustrasinya di SINI) hadir sebagai penguat cerita; menampilkan tokoh atau karakter utama, konflik paling tajam, pun latar cerita. Ilustrasi berdiri sendiri dan sama sekali 'melenceng' jauh dari cerita? Sepertinya belum ada. 

Sebagai penulis, aku dan juga teman-teman penulis, biasanya dihubungi hanya untuk konfirmasi cerpen yang hendak dimuat, bukan dimintai pertimbangan bagaimana sebaiknya ilustrasi cerpen ditampilkan. 

Tentu akan menjadi lebih menarik ketika aku mencoba membaca terbalik seperti yang dilakukan oleh Agus Noor. Bagaimana aku menanggapi ilustrasi-ilustrasi tersebut untuk menghasilkan karya baru. Baik, aku akan mencobanya. 

Sebagai novelis.

Beberapa penerbit bahkan mencantumkan pasal peraturan yang menyatakan bahwa segala jenis dan bagaimana bentuk perwajahan novel sepenuhnya diatur oleh penerbit. Penulis tak bisa sedikit pun mengajukan usul dan masukan. Sehingga sesungguhnya, perwajahan novel yang menor, tidak sesuai isi, dan hal lainnya penulis tak ikut urun sedikit pun di sana.

Sebagai perupa, mas Andre mengatakan juga pernah melakukan perwajahan untuk novel. Hal ini dilakukan dengan dua cara; banal (menggambarkan persis isi novel) atau berbeda sama sekali. 

Mengenai apakah seorang sastrawan (penulis) bisa juga menjadi perupa dan juga sebaliknya, kita sedang bicara mengenai kencederungan di sini. Bisa saja, tapi setiap pribadi seniman pasti memiliki sisi condong terhadap ilmu yang sedang ditekuni. Bisa jadi ia mumpuni dalam menulis, merupa pun juga--meski itu tidak sedalam ilmu menulisnya. Pun begitu sebaliknya. 

Apabila ditilik pada pola atau kebiasaan di masa lampau, ketika seniman bisa melakukan apa saja, lebih karena kultur bersama yang kuat. Ingat atau tahu mengenai seniman Malioboro? Pimpinan Umbu Landu Paranggi dengan anggota yang sekarang sudah menjadi senior dalam hal seni. Mereka bisa menguasai segala aliran seni karena terbuka dan sudi saling belajar. 

Sementara anak muda sekarang, yang terkekang tali tak terlihat bernama gawai, kesukaannya nyinyir tanpa juntrungan, dan tak melihat celah keilmuan yang bisa dipelajari untuk mengembangkan diri, tentu akan semakin sempit dan tak menguasai berbagai macam ilmu. Okelah, hal ini bisa dimaklumi untuk mereka yang bukan seorang seniman atau kreator atau hanya penikmat. Tidak apa-apa.

Tantangan sebenarnya datang bagi seorang kreator. Kemajuan teknologi akankah mengekang atau malah mengembangkan keilmuan seseorang menjadi lebih luas lagi?


** SARU adalah singkatan yang dilontarkan oleh mas Andre Tanama; apakah sastra dan rupa sebaiknya dipersatukan? SARU di sini bisa diartikan secara literer atau suka-suka. 






Kamis, 05 Februari 2015

Mau Menulis Apa

Menurut pengertian secara umum, cerpen adalah karangan pendek (lebih pendek ketimbang novelet dan novel, tentu saja). Isinya sepenggal kisah kehidupan tokoh, kejadiannya tunggal, konfliknya tunggal, pun plot dan setting, jumlah tokohnya terbatas, penyelesaian masalahnya cepat (baik sad, happy, atau open ending). Berapa panjang sebuah cerita pendek? Kalau merujuk syarat pengiriman cerpen koran Kompas; maksimal 1.400 kata atau 10.000 cws (characters with spaces).  Tapi tidak semua media, dalam hal ini koran, mensyaratkan jumlah yang sama. Cerpenku yang dimuat di Koran Tempo (La Vie, Heute Herbst, CLOS E, Skarf) ada yang berjumlah 1.300 kata. Aku lupa berapa jumlah kata cerpenku yang dimuat di Jawa Pos (Ayahmu Mati), tapi aku pernah menjumpai cerpen yang dimuat di Jawa Pos berjumlah lebih dari 2.000 kata. Cerpen di Majalah Femina (Gelas Kopi ke-124) kalau tidak salah ingat aku mengirimkannya dengan berjumlah 1.400-an kata. Cerpen Media Indonesia (Gembok) aku kirim menyesuaikan dengan syarat khusus yang diminta, yaitu 9.000 karakter. 


Akan lebih mudah menghitung panjang cerpen menggunakan jumlah kata atau karakter ketimbang jumlah halaman (yang akan banyak dipengaruhi jenis huruf, ukuran, dan spasi).
Gambarannya kurang lebih begitu. Sebelum mengirim cerpen, baiknya memperhatikan ketentuan dari masing-masing media.
Cerpen anak: ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana. Bahkan salah satu ketentuan yang diajukan oleh majalah Bobo menyebutkan bahwa kalimat yang digunakan dalam cerpen sebaiknya bisa dipahami oleh murid kelas 4 SD.

Kurangi kalimat penjelas yang bertele-tele. Lebih baik kalau isinya penuh petuah dan nasihat supaya pembacanya berlaku baik dan menurut dan jujur (sebenarnya secara pribadi, aku lebih menyukai cerita anak yang bengal, hehe).
Cerpen remaja; tentu, fokus ceritanya seputaran mengenai kisah remaja. Pilihan kata pun kalimat dialognya cair alias tidak baku. Sesuai dengan kata-kata atau kalimat percakapan yang digunakan dalam hidup sehari-hari. Contoh bagaimana contoh cerita pendek remaja, bisa membaca cerpen-cerpen dari majalah Kawanku, Gadis, dan Hai.

Cerita pendek sastra memiliki kecenderungan mengangkat masalah sosial yang ada di masyarakat. Biasanya memiliki rasa pahit dalam ceritanya-baik secara plot, konflik dan juga ending. Diksi atau pilihan katanya baku. Bentuk cerpen sastra ini biasanya bisa bermacam-macam (cari saja cerpen Budi Darma yang pernah dimuat di Kompas—berbentuk lima cerita mini yang disusun dalam satu cerita pendek). Minim dialog—cerita bergerak lebih banyak melalui tuturan narasi. Contoh-contoh cerpen sastra (dalam hal ini koran, ya, karena lebih mudah mencari rujukannya), kamu bisa main ke  id.klipingsastra.com, deh.  

Novel

Novel itu lebih panjang dari cerpen. Tentu saja. Panjang. Panjang sekali. Kalau cerpen memiliki jumlah 1.400 – 2.000 kata, novel bisa memiliki 25.000 – 40.000 kata. Uraian cerita dalam novel jauh lebih mendalam ketimbang cerpen; ‘bertele-tele’ dalam artian baik alias tidak membosankan dan menceritakan satu hal itu lebih dari banyak sisi.

Cerita di dalam novel bergerak dari satu adegan ke adegan lain, dari satu tempat ke tempat yang lain (bisa juga hanya berkutat di satu tempat yang sama, atau apapun) tapi yang jelas memiliki rentang waktu yang panjang. Kalau pun terjadi hanya dalam satu malam seperti After Dark-nya Haruki Murami, namun adegan per sekian waktunya ditulis dengan detail (dan jauh lebih dalam, bila di sini kita membandingkannya dengan media cerpen).

Konflik, tentu saja, adalah hal yang akan menggerakkan plot baik di dalam cerpen maupun novel. Dalam novel, rangkaian dari beberapa konflik ini akan membentuk satu jalan cerita. Oleh karena itu, novel punya plot yang kompleks: berbagai peristiwa atau kejadian atau konflik dalam novel ditulis saling berkaitan. Dengan ruang yang lebih luas dalam menulis, novel dapat bercerita panjang lebar, membahas persoalan dengan lebih luas dan mendalam. Pun jumlah karakter atau tokoh yang bermain dalam novel.

Supaya Cerpen dan Novel Dilirik Editor

Apa rahasia membikin cerpen atau novel atau tulisan apapun supaya bisa editor (baik editor cerpen atau novel) tertarik?

Nama besar.

Enggak, ah. Sama sekali enggak.
Aku bisa bilang begitu karena pengalamanku sendiri enggak pernah mengatakan hal tersebut. Novel pertama Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku (terbit 2007 dan juga diterbitkan di Malaysia dan juga dibikin FTV oleh Starvision) aku tulis tanpa nama besar.
Novel Teenlit Girl-ism yang diterbitkan Gramedia tahun 2009 juga aku tulis saat aku belum memiliki nama.
Cerpen pertama di Koran Tempo berjudul “La Vie” (iya, waktu itu aku aneh betul sok-sokan menggunakan pseudonim ganjil semacam Randu Wangi) adalah cerpen yang benar-benar pertama aku coba kirim ke media massa koran. Hanya perlu menunggu waktu dua minggu sebelum cerpen itu dimuat.
Cerpen di Jawa Pos pun serupa. Aku adalah seorang newbie atau pendatang baru di dunia sastra cerpen koran mengirim cerpen itu hari Senin. Tanpa diduga di hari Minggu di minggu sama, cerpen itu langsung dimuat.
Novel The Strawberry Surprise, percayalah, rasanya seperti novel romance yang ‘enggak masuk akal’ karena tidak seperti novel-novel romance lainnya. Bila kebanyakan novel cinta-cintaan menceritakan tokoh perempuan yang begini dan begitu, tokoh laki-laki yang begini-begitu (aku tidak suka cerita romance – baca bagian satu), aku membikin tokoh utama perempuan novel romance The Strawberry Surprise ini sebagai tokoh yang MENJENGKELKAN bukan main.

Aku bukanlah seorang novelis cerita romance yang terkenal karena cerita romantis yang mengaduk-aduk emosi, tapi novelku terpilih untuk difilmkan Starvision Oktober 2014 lalu dengan dua bintang utama Acha Septriasa dan Reza Rahadian.

Lalu apa?

Ini: tulisan yang menarik, memikat, mengikat, dan yang membikin pembaca enggak mau meletakkan bukumu sebelum benar-benar menyelesaikan membaca cerita.
Bikin kalimat pembuka yang nendang:
Bikin satu halaman pertama cerpenmu nendang dan bikin penasaran!
Bikin lima halaman pertama bab satu novelmu benar-benar mengikat!

Kalimat (dan juga halaman pertama cerpen dan bab satu novel) yang nendang itu biasanya bikin penasaran, bikin pembaca akan membatin, “Eh, apaan ini? Mau ngomong apa cerita ini? Kok kayaknya menarik. Baca, ah.”
Bagaimana caranya supaya bisa fasih membikin hal-hal yang nendang itu? Teman-teman harus baca banyak cerpen dan novel yang bagus—bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara; belajar dari karya yang baik.
Mulai sekarang setiap kali hendak membaca cerpen atau novel, perhatikan dua kalimat awal, satu atau dua halaman pertama cerpen, dan bab satu dari sebuah novel. Bila menurut teman-teman penulisannya menarik dan membikin penasaran, coba tulis ulang dan pelajari mengapa tulisan itu bisa membikin penasaran, betah, dan enggak mau lepas.


Hatsyih!

Bisa dibilang cerpen itu hatsyih sekali, novelet itu hatsyih lima sampai enam kali, dan novel itu adalah rentetan hatsyih yang tak berhenti-berhenti sampai kamu meler dan pusing dibuatnya.
Ah, seandainya menulis cerpen dan novel itu seperti bersin; rampung dalam sekali hatsyih!


Berikutnya:

Kamis, 18 Desember 2014

Mencari Ide

Ide tulisan ada di mana-mana, tergantung kamunya saja bisa menangkap ide tersebut dan menuangkan dalam tulisan atau tidak. Ya, perkataan atau saran tersebut tidak ada salahnya. Juga termasuk nasihat: mulailah menulis dari yang dekat, atau dari pengalaman dan pengetahuan yang kamu kuasai.

Tapi, begini...

Fiksi atau kisah rekaan merupakan re-kreasi (re-create) kenyataan. Sehingga, re-kreasi merupakan pilahan atas pilihan kenyataan hidup yang kemudian dimampatkan menjadi sebuah 'kenyataan' yang baru, biasanya mengandung nilai dan amanat tertentu (bisa disampakan tersirat pun tersurat).

Jadi, nasihat mengenai ide ada di mana-mana memang benar adanya. Namun, memilih dan memilahnya tentu butuh sebuah perlakuaan yang lebih lagi. Bila tak dipilah, tentu ceritanya akan menggeladrah alias berpanjang-panjang tidak penting. Bahkan untuk novel yang memiliki kebebasan jumlah halaman.

Lalu, bagaimana bila tidak peka dan tak bisa mere-kreasi sebuah ide menjadi tulisan baru? Let's playin' with three--you can do this whether you have an idea or nay.



Tentukan Tiga Kata/Frasa


Why I choose three words or phrase(s), just because it's my Masku-Meine Liebe's name. So, kamu bisa menentukan empat atau lima jumlah kata atau frasa. Jangan terlalu banyak, karena akan tidak fokus. Lagipula, pertanyaan mengenai isi novel bukankah jamak diajukan seperti ini: sebutkan isi novel Anda dalam tiga kata. Nah, pondasi awal tiga pilihan kata (baik dipilih secara acak atau dipilih benar-benar) tentu bisa dijadikan jawaban.

Ambil contoh dari cerpenku, ya.

Gembok - Media Indonesia, 2015

der Diebe - gembok - penulis romance

Maka, ceritanya akan menjadi seperti ini:

Teringat Jörg, warna biru seragam, tindikan, rambut dicat merah, obrolan cinta teranalogi kunci dan gembok membuat Wiechert menemukan ide baru. Wiechert akan menjadikan karakter unik Jörg sebagai tokoh utama yang jatuh cinta pada seorang pelanggan bulimia. Ini akan jadi cerita roman yang tidak biasa. Semoga kali ini ia mampu menyelesaikan tulisan. Kalau macet, ia akan kembali ke toko kelontong untuk mengobrol mengorek ide.Wiechert menyedot rokok sekali lagi. Suara mesin ketiknya mulai berdentam-dentam. (selengkapnya baca di SINI)


Skarf - Koran Tempo, 2012

Perancis - Senegal - skarf

Maka, aku pun menulisnya seperti ini:

Morris tahu, perkara Silvie akan balas mencintainya itu hanyalah angan-angan. Silvie berusia dua puluh lima, sedang ia baru delapan belas. Silvie tinggal di lingkungan yang sama dengan Morris. Daerah kumuh di wilayah selatan Perancis. Ada dua kemungkinan kenapa Silvie mengabaikannya padanya; rentang usia mereka (padahal Morris tidak mempermasalahkannya), dan fakta bahwa Silvie orang Perancis asli sedang Morris berkulit hitam dan keturunan Senegal. Bisa jadi Silvie mengabaikannya karena Morris berdarah ‘kotor’, meski mereka tinggal di lingkungan kumuh yang sama. Jadi Morris merasa mereka sebenarnya tidak ada bedanya.

Silvie menatap skarf merah muda dengan pinggiran merah tua (yang bila dililit di leher juntaiannya akan tampak seperti kelopak mawar) dengan tidak percaya. Morris menunggu dengan perasaan berdebar. Namun Silvie hanya mengamati kain indah yang dilipat di dalam kotak tersebut. Menyentuhnya pun bahkan tidak.

“Cobalah,” kata Morris.


Silvie menutup kotak itu kembali dan menyodorkannya pada Morris. “Tidak, Morris. Aku tidak bisa menerimanya.” (selengkapnya baca di SINI)

Bebaslah memilih tiga kata. Jangan terhambat oleh ketakutan atau kecemasan mengenai apakah kata ini bagus atau buruk, kata ini menarik atau membosankan. Pilihan tiga kata selain untuk memancing ide (bila kamu benar-benar dari pengalaman kosong), juga bisa membantu fokus saat kamu mulai menulis dari pengalaman dan atau pengetahuan yang kamu kuasai.

sumber gambar


Pergunakan Gambar

Saking banyaknya yang dilihat dalam keseharian, sampai bingung sendiri apa yang diangkat dalam tulisan, ya? Sebenarnya ini lagi-lagi mengenai fokus.

Begini saja, ambil kameramu. Tentukan sebuah spot, lalu jepret! Gambar yang kamu ambil bisa dijadikan pijakan untuk memulai cerita. Atau, bila ingin lebih kreatif atau menantang, pilih secara acak gambar dari internet, lalu tulis.

Asyik lagi bila kamu menyediakan waktu datang ke sebuah pameran lukisan atau pameran seni rupa. Berbagai macam aliran lukisan pun berupa bentuk instalasi sangat bagus untuk memancing imajinasi.

Mainkan Musik 


Saat kamu sudah setengah jalan dalam menulis, musik bisa digunakan sebagai pendukung suasana. Tapi di awal proses, musik bisa digunakan untuk memunculkan ide. Entah dari lirik, isi keseluruhan lagu, pun suasana yang tercipta dari lagu yang kamu dengarkan; muram, riang, ceria, menegangkan, murung, misteri, horor, dll.

Kombinasikan

Bila sudah terbiasa menggunakan ketiga cara tersebut untuk mencari, bolehlah dikombinasikan. Misal, ide cerita berangkat dari cara 'tentukan tiga kata/frasa', untuk setting cerita kamu bisa menggunakan cara 'pergunakan gambar', dan untuk menentukan genre yaitu pop-romance, detektif, horor-thiller, sastra, atau yang lain pergunakan cara 'mainkan musik'.

Asyik, kan. 


Selasa, 04 November 2014

Bagaimana Novel “the Strawberry Surprise” Difilmkan

Bagaimana bisa novel “the Strawberry Surprise” dipilih untuk difilmkan?


Bisa saja. Kenapa enggak? Begini caranya: aku menggunakan jasa dukun santet kenamaan dari seluruh penjuru Indonesia dan bahkan dunia—Zimbabwe terutama. Kau tahu, mereka hanya perlu membakar kelembak dan mengipaskan asap menggunakan surban mereka yang bermeter-meter panjangnya ke Jakarta sehingga produser jatuh hati dan mengadaptasi novelku ke dalam film.

Tentu enggak begitu. Tapi lebih karena aku menulis cerita romance sesuai yang aku inginkan. Sebagai seorang penulis yang tidak suka membaca novel populer cinta dengan kisah mendayu dengan tokoh protagonis bernasib sedemikian memelas dan antagonis bisa sedemikian culas, aku memutuskan untuk menulis apa yang aku mau. Aku bermain-main, bersuka-suka sebebasnya dan jujur. Ini ceritaku, maka terserah aku mau membikin yang kayak bagaimana.

Percayalah, karena kebebasan—berjiwa bebas dan jujur dalam mencipta itu sangat penting dan mutlak dimiliki seorang penulis (genre apapun ia).

Menggunakan formula “bahwa tidak ada yang hitam putih”, aku menciptakan tokoh protagonis yang menyebalkan, dan tokoh antagonis dan mampu menarik iba dengan plot yang enggak linear. Penulis adaptasi skenario film “Strawberry Surprise” menyebutnya kompleks sampai sempat membikinnya kelimpungan, produser dan sutradara menyebutnya berani dan berbeda.

Berikut aku kutipkan pernyataan produser, sutradara, dan penulis skenario berdasar press release film “Strawberry Surprise”:


STRAWBERRY SURPRISE – Ibarat Stroberi, Cinta adalah Rangkaian Kejutan Rasa


Catatan Produser: Chand Parwez Servia

Berniat mengisi kelangkaan film romantis yang indah, membekas di hati dan jadi tontonan abadi, dibarengi keinginan Hanny R Saputra berkarya kembali di Starvision, mulailah dicari ide cerita yang berbeda, realis sesuai kondisi kekinian, tapi romantis dan representatif. Lebih dari setahun hingga akhirnya novel “the Strawberry Surprise” karya Desi Puspitasari ditemukan; kisah cinta khas Indonesia, cinta terkendali jarak dari angkatan muda yang seringkali terpaksa membuat pilihan kerja demi karier dan masa depan.

Kombinasi tiga perempuan: penulis novel Desi Puspitasari, penulis skenario Oka Aurora, dan editor Aline Jusria yang apik menyusun rangkaian gambar peristiwa dalam Strawberry Surprise yang dibesut Hanny R Saputra, melengkapi capaian karya ini sesuai harapannya. Genangan rasa antar karakter membuat Strawberry Surprise menjadi kisah cinta yang jujur dan penuh kejutan.


Catatan Sutradara: Hanny R Saputra

Sudah sangat lama saya tidak bekerja sama dengan Pak Parwez (Starvision). Perpisahan yang lama tentu memberi pengalaman yang banyak dan berbeda pada kami berdua. Pikiran-pikiran baru tentang film seperti apa yang menarik dan sesuai penonton saat ini (cerdas, realistis, dan berselera global) menjadi perbincangan kami.

Pak Parwez ingin membuat film romantis yang mendalam (mungkin Pak Parwez masih melihat itu sebagai spesialis saya), dan tema romantis yang saat ini jarang diproduksi di perfilman Indonesia. Satu pertanyaan dalam pikiran saya, film romantis yang seperti apa yang cocok dengan penonton film saat ini? Jawaban saya adalah membuat film romantis dengan pendekatan realistis.

Pak Parwez meminta saya membaca novel “the Strawberry Surprise”. Saya terkesima setelah membaca novel ini. Menurut saya ini adalah novel eksperimental yang berani, dengan memainkan karakter-karakter yang rumit dan kompleks, bahasa yang berat dan ditambah struktur cerita yang tidak linier (maju mundur antara masa kini dan masa lalu). Lengkaplah penilaian saya untuk menganggap novel ini sebagai novel seni yang mengambil tema tentang cinta. Sebuah novel serius yang rumit dibuat menjadi film romantis yang encer dan bisa diterima semua kalangan merupakan tantangan luar biasa. Tapi, yang pasti untuk kemajuan perfilman kita di kemudian hari, kita membutuhkan penulis-penulis seperti Desi Puspitasari. Kebebasan dan keberaniannya sangat kita butuhkan untuk membuat inovasi-inovasi baru di dunia perfilman Indonesia, dan ini sangat mewakili semangat generasi muda saat ini.


Catatan Penulis Skenario: Oka Aurora

Sepanjang membaca novel ini tak henti-hentinya saya berpikir, “God, am I in trouble?”

Alur cerita kaya kilas balik, karakter tokoh utama yang kompleks, dan bahasa percakapan yang ‘berat’ membuat saya memutar otak mencari cara untuk mengadaptasinya menjadi lebih ringan, mengalir, namun tetap sekompleks alam pikir tokoh Aggi.

Terima kasih Desi Puspitasari yang telah memaksa saya mengunyah dan menelan cerita sepanjang 267 lembar yang asam dan pedih ini. Karena di ujung ceritanya akhirnya saya menemukan betapa manis cerita ini sebenarnya.


Berani Beda

Murakami barangkali telah menjadi aliran mainstream (semua orang membaca dan membicarakan Murakami), tapi kutipan “If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking” aku kira masih sah saja untuk dibicarakan.

Jarang atau hampir enggak pernah membaca novel romance bisa dibilang salah satu cara membikin ide dan menulis yang berbeda. Bukan sengaja menghindari, tapi aku memang kurang suka membaca novel romance. Selain sastra (aku pikir semua yang punya keinginan menjadi penulis harus membaca karya sastra dengan tema yang kadang berat dan serius—ini akan membantumu belajar merumuskan permasalahan atau konflik dalam cerita, selain mengatur plot dan karakteristik yang kuat dan unsur intrinsik lain dalam tulisan), aku menyukai novel—aku kira hanya menyukai novel sastra dan novel anak-anak bandel macam yang ditulis oleh Enyd Blyton. Dan, bukan lagu pop cinta (aku menyukai Led Zeppelin dan Queen, anyone?), dan film macam No Country for Old Men (diadaptasi dari novel berjudul sama karya Cormac McCarthy). Dan, ternyata kesukaan yang jauh dari kosakata ‘cinta’ tersebut malah memberi keuntungan—selain realis, ceritaku juga enggak pasaran.

’Keterbatasan’ (pengetahuan yang minim mengenai cerita cinta) menciptakan celah kreativitas yang cenderung baru dan segar, bukan?

Mengenai keberanian menulis ‘berbeda’, sebenarnya lebih karena aku tidak memiliki kemungkinan lain. Membaca cerita cinta saja aku enggak betah, bagaimana kemudian aku bisa menuliskan cerita romance yang senapas? Tentu enggak bisa. Itu kenapa kemudian aku berani mengambil jalan menulis cerita cinta dengan cara ‘suka-suka aku’ dan ‘semau aku’.

Kalau kata Chuck Palahniuk (penulis Fight Club yang difilmkan dengan aktor Brad Pitt dan Edward Norton):

Write the book you want to read!


Riset, Tekun, dan Teliti

Menulis yang ’semau aku’ hanyalah cara. Selebihnya tidak boleh seenak udel sendiri. Di sini aku sedang membicarakan riset mengenai tema yang hendak ditulis dan segala hal yang meliputinya. Tema “stroberi” yang harus dianalogikan menjadi tema besar novel romance tentu bukan hal yang mudah untuk dicari penjabarannya.

Aku mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan stroberi (buah, parfum, lipbalm, ilmu pertanian, dan semuanya) kemudian aku analogikan dengan kisah cinta. Yang aku dapatkan kemudian adalah: kecut manisnya buah stroberi yang enggak terduga itu sama seperti kisah cinta. Dari satu kalimat tersebut kemudian aku mencari ide besar, merinci karakter, dan menyusun plot.

Sabar, tekun, dan teliti saat hendak dan sepanjang proses menulis memang melelahkan. Letih bukan main. Tapi, enggak apa-apa. Demi tulisan yang bagus dan menarik dan dilirik produser sekelas Starvision dan dibintangi oleh Acha Septriasa, Reza Rahadia, dan Olivia Jensen, semua keringat kerja susah payah itu terbayar lunas dalam bentuk penghargaan dan kebahagiaan, bukan?

Selain beberapa poin yang aku tulis di atas, mengenai berani menjadi beda dan sabar dan teliti, tentu masih dibutuhkan banyak perangkat lain dalam menulis. Spirit yang baik tentu perlu didukung teknik yang juga enggak kalah penting.




Copyright © 2010- | Viva | Kaffee Bitte | Desi Puspitasari | Daily | Portfolio